Masalah yang timbul adalah bagaimana mengurangi dan menghilangkan kebiasaan jajan pada anak. Dra. Mayke S. Tedjasaputra, psikolog anak dan staf pengajar UI, mengatakan bahwa kebiasaan jajan bisa diminimalisir bahkan dihilangkan.
Kebiasaan jajan adalah suatu sikap yang terbentuk karena dilakukan secara terus menerus yang merupakan pengalaman menyenangkan, dan kadangkala digunakan untuk melawan orangtua, agar sama dengan teman, atau untuk 'membeli' teman.
Menurut Tedjasaputra yang juga seorang terapis bermain ini, kebiasaan jajan terjadi karena beberapa hal yaitu:
1. Pola hubungan orangtua dan anak
Ketidakdekatan menjadi satu-satunya alasan kenapa anak lebih suka jajan. Ketidakdekatan ini bisa disebabkan oleh beberapa sumber, seperti orangtua yang sibuk bekerja, jadi memilih memberikan uang jajan daripada memasak untuk mereka.
2. Karakteristik anak
Anak-anak, sama halnya seperti orang dewasa, memiliki berbagai karakteristik. Ada yang mudah diberitahu adapula yang cenderung melawan. Di sinilah diperlukan kesabaran dan kreativitas dari Anda selaku ibunya.
3. Pola makan keluarga
Ada keluarga yang lebih suka membeli makanan dari luar dan ini menurun ke anak yang melihat pola makan orangtuanya.
4. Tetangga dan sekolah
Lingkungan tetangga dan sekolah merupakan sarana beriklan paling manjur untuk anak-anak. Buah hati Anda mudah tergiur saat temannya membawa jajanan yang belum pernah dicobanya.
5. Iklan
Mudahnya akses anak-anak untuk melihat berbagai iklan membuat mereka terus berkeinginan jajan dan bersifat konsumtif.
Menurut Tedjasaputra yang ditemui belum lama ini, sebenarnya kebiasaan jajan pada anak, bisa diubah asal ada kemauan lebih dulu dari orangtua. Dalam arti orangtua mau mengubah kebiasan makan mereka, lebih kreatif dalam membuat makanan camilan tandingan agar mereka tak jajan di luar.
Orangtua juga harus tegas membatasi permintaan anak untuk jajan. Caranya, membatasi uang jajan mereka dan frekuensi jajan. "Misalnya anak-anak hanya boleh jajan hari Sabtu atau Minggu. Jika hari hari lain mereka menangis, Anda harus sedikit tega untuk membiarkan karena di sinilah letak pendidikannya,"ungkap Tedjasaputra.
Selain itu, ada dua upaya lagi untuk mengurangi kebiasaan jajan pada anak, yaitu upaya preventif dan upaya kuratif. Upaya preventif dilakukan sejak sedini mungkin bahkan ketika anak masih di dalam kandungan dengan mengenalkan dan membiasakan pola makan yang sehat dan regulasi tata cara makan.
Sedangkan upaya kuratif adalah dengan menciptakan suasana makan di rumah menjadi menyenangkan. Misalnya, dengan mengajak anak ke pasar membeli bahan-bahan makanan dan melibatkan mereka pada proses pembuatannya.
Tapi, Tedjasaputra menegaskan untuk menghindarkan anak dari proses 'pembunuhan' binatang seperti menyembelih, memukul kepala ikan dan lainnya. Ini bisa menyebabkan anak trauma untuk makan daging sehingga memilih menjadi vegetarian. Padahal, anak-anak tidak boleh melakukan diet ketat.
Hal senada juga diungkapkan oleh Dr. Fiastuti Witjaksono SpGk. Ia mengatakan anak-anak sangat membutuhkan protein dan lemak yang terdapat dari daging. Masalah kebiasaan jajan pun turut ditanggapi oleh ibu tiga anak ini.
"Jajanan yang di beli di jalan tidak bisa diukur tingkat kebersihan, kesehatan apalagi gizinya. Bahkan jajanan tersebut membuat anak mudah terserang penyakit. Ibu memang harus kreatif dalam menyiapkan camilan yang menarik dan bergizi tentunya."ujar Witjaksono. (mediaindonesia)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar