KEMAJUAN teknologi dan informasi memungkin Anda untuk berjumpa dan menjalin kasih dengan laki-laki dari berbagai negara. Tapi permasalahan yang turut mengekor dan seolah mendarah daging adalah masalah komunikasi dan budaya yang jauh berbeda. Belum lagi perjanjian pranikah, pembagian harta gono gini (jika bercerai) dan kewarganegaraan serta hak asuh anak.
Pernikahan campuran antara dua warga negara diatur dalam UU Perkawinan No.1 tahun 1974 dalam Pasal 57 yang berbunyi ''Yang dimaksud dengan perkawinan campuran dalam Undang-undang ini ialah perkawinan antara dua orang yang di Indonesia tunduk pada hukum yang berlainan, karena perbedaan kewarganegaraan dan salah satu pihak berkewarganegaraan Indonesia.''
Para laki-laki ini juga harus mengatur semua urusan termasuk surat-surat mengenai jati dirinya dan akan lebih baik lagi jika Anda dan pasangan membuat surat perjanjian pranikah yang mengatur tentang kepemilikan harta, bagaimana pembagian harta secara terpisah dan hak asuh anak.
Untuk kewarganegaraan anak, pemerintah sebelumnya mengatur anak di bawah usia 18tahun mengikuti kewarganegaraan sang ayah. Tapi, Undang-undang ini di revisi pada 11 Juli 2006, yang mengatakan bahwa anak hasil pernikahan dua bangsa juga memiliki dua kewarganegaraan sebelum ia berusia 18tahun. Bila terjadi perceraian, hak asuh seharusnya ada pada ibu, tapi ini masih bisa berubah dan disesuaikan dengan keingan dua belah pihak dan hukum dari dua negara.
Adapun Amalya Lerrigo dan Emmylia Hannig dari Srikandi-organisasi non profit dan non politisi yang menaungi perempuan-perempuan Indonesia yang menikah dengan laki-laki berkebangsaan asing-yang menjadi pembicara dalam Kampanye Sariwangi Mari Bicara, mengemukakan permasalahan yang terjadi adalah masalah komunikasi dan budaya.
Menurut mereka berdua ada beberapa cara yang harus dikembangkan untuk meminimalisir perbedaaan, yaitu:
Komunikasi efektif dan terbuka, baik antara suami dengan istri, suami dengan keluarga istri dan suami dan istri dengan keluarga suami dan istri. Dalam hal ini Anda memiliki ‘pr’ yang tak sedikit. Anda dituntut untuk bisa menjelaskan kepada keluarga besar mengenai budaya mereka yang 1800 berbeda dari kita. Hannig memberikan contoh berdasarkan pengalaman pribadinya berupa waktu kunjung. Budaya Indonesia memperbolehkan semua saudara berkunjung tanpa harus membuat janji lebih dulu, tapi dengan orang luar Anda harus membuat janji lebih dulu karena jika tidak akan dianggap mengganggu privasi.
Selalu berpikiran positif terhadap semua hal
Kreatif dan inovatif. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk bisa berbaur di keluarga dan teman-teman suami yang berbeda budaya. Anda bisa menggunakan cara seperti Lerrigo yang menggunakan hobi masaknya sebagai jembatan untuk berkomunikasi dengan suami, keluarga suami dan teman-temannya.
Menghargai, ini bukan saja untuk pasangan beda bangsa tetapi juga untuk seluruh pasangan. Karena kehidupan rumah tangga tak akan berjalan dengan baik jika kedua belah pihak ingin menjadi nomor satu dan tak ada yang mau mengalah. Jangan salah tafsir, mengalah di sini bukan menyerah dan kalah tapi mencari solusi dari permasalahan yang terjadi. (mediaindonesia)
SERINGKALI Anda menyepelekan hal-hal sederhana yang ada di sekitar rumah. Padahal hal-hal sederhana itu bisa menjadi musuh dalam selimut dan tentu saja berbahaya bagi Anda dan keluarga. Berikut beberapa hal sepele yang perlu diperhatikan agar tak membahayakan keselamatan keluarga.
1. Membersihkan telinga
Permasalahan yang terjadi saat membersihkan telinga adalah kapas dari cotton bud tertinggal di dalam telinga. Jika dibiarkan akan mengganggu proses pendengaran. Lebih baik gunakan alat pembersih telinga yang kapasnya bisa dililit sendiri. Sehingga Anda bisa mengukur panjang kapas. Lilitkan dan pastikan kencang, saat menggunakannya pun pegang bagian belakang kapas, sehingga mencegah kapas bergerak-gerak dan tertinggal.
2. Mengucek mata
Alasan orang mengucek mata karena merasa gatal atau refleks sehabis bangun tidur. Padahal saat mengucek mata, malah akan memperburuk kondisi mata Anda. Sebenarnya mata kita sudah memiliki 'alat pembersih' otomatis, yaitu air mata. Secara normal, air mata akan membilas mata dan membawa benda asing pergi. Tapi benda-benda yang ukurannya lebih besar dari pasir seperti softlens tidak akan bisa dibersihkan oleh air mata. Ini membutuhkan bantuan dokter.
Saat mengucek mata, partikel kecil yang ada di tangan bisa menggores permukaan kornea. Akibatnya, saat benda asing sudah hilang dibawa air mata, mata akan tetap terasa gatal karena luka akibat goresan menyebabkan terjadinya proses inflamasi (peradangan) lebih lanjut. Keadaan ini dinamakan corneal abrasion, suatu keadaan dengan lapisan-lapisan kornea tidak lagi intact (menyatu).
Jika terlalu keras mengucek mata dapat memecahkan pembuluh-pembuluh darah kecil di bola mata. Selain itu, tekanan yang terlalu keras saat mengucek mata juga dapat menyebabkan kerusakan pada bagian dalam bola mata, terutama retina. Jika ini terjadi bisa mengganggu proses penglihatan.
Lebih baik gunakan air mata sintetis atau biarkan saja saat mata Anda gatal, karena ada air mata yang membersihkannya. Jika sudah sangat gatal dan mengganggu segera pergi ke dokter mata.
3. Meniup balon
Ada satu kasus seorang anak mengalami kebutaan setelah meniup balon. Anak itu terlalu kuat meniup hingga menarik otot matanya sendiri. Memang lebih baik menghindari permainan-permainan yang membahayakan termasuk pistol-pistolan yang menggunakan peluru plastik berbentuk panjang maupun bulat.
4. Tidak memakai jaket
Jangan menyepelekan mengendarai motor tanpa menggunakan jaket sekalipun hanya jarak dekat. Angin yang menerpa tubuh, bisa membuat jantung Anda bermasalah.
5. Meletakkan anak sebagai 'perisai' saat naik motor
Jika Anda sedang melakukan perjalanan, cobalah lihat sekeliling dan perhatikan anak-anak yang dijadikan 'periasai'. Mereka di tempatkan di depan ayahnya yang mengendarai motor. Parahnya lagi, si anak tidak menggunakan jaket ataupun helm pelindung kepala. Jika orang dewasa saja berbahaya mengendarai motor tanpa jaket, bagaimana dengan anak-anak? Tubuh anak-anak masih sangat riskan terkena penyakit. Jadi jika tetap ingin mengendarai motor, letakkan mereka di tengah dengan menggunakan perlengkapan bermotor mereka.
6. Seluncuran di kolam renang
Gunakan ban atau pelampung saat berseluncur di seluncuran kolam renang. Karena tak ada yang mengetahui apa yang terjadi di atas sana. Bisa saja mur, atau besi penyambung seluncuran ada yang terlepas dan berpotensi melukai tubuh saat berseluncur. (mediaindonesia)
BUKAN hal yang baru bila Anda melihat anak-anak kecil jajan di sekolah maupun di rumah mereka. Tapi selaku ibu, sadarkah Anda bahwa jajanan yang mereka makan belum tentu bersih, sehat dan bergizi?
Masalah yang timbul adalah bagaimana mengurangi dan menghilangkan kebiasaan jajan pada anak. Dra. Mayke S. Tedjasaputra, psikolog anak dan staf pengajar UI, mengatakan bahwa kebiasaan jajan bisa diminimalisir bahkan dihilangkan.
Kebiasaan jajan adalah suatu sikap yang terbentuk karena dilakukan secara terus menerus yang merupakan pengalaman menyenangkan, dan kadangkala digunakan untuk melawan orangtua, agar sama dengan teman, atau untuk 'membeli' teman.
Menurut Tedjasaputra yang juga seorang terapis bermain ini, kebiasaan jajan terjadi karena beberapa hal yaitu:
1. Pola hubungan orangtua dan anak
Ketidakdekatan menjadi satu-satunya alasan kenapa anak lebih suka jajan. Ketidakdekatan ini bisa disebabkan oleh beberapa sumber, seperti orangtua yang sibuk bekerja, jadi memilih memberikan uang jajan daripada memasak untuk mereka.
2. Karakteristik anak
Anak-anak, sama halnya seperti orang dewasa, memiliki berbagai karakteristik. Ada yang mudah diberitahu adapula yang cenderung melawan. Di sinilah diperlukan kesabaran dan kreativitas dari Anda selaku ibunya.
3. Pola makan keluarga
Ada keluarga yang lebih suka membeli makanan dari luar dan ini menurun ke anak yang melihat pola makan orangtuanya.
4. Tetangga dan sekolah
Lingkungan tetangga dan sekolah merupakan sarana beriklan paling manjur untuk anak-anak. Buah hati Anda mudah tergiur saat temannya membawa jajanan yang belum pernah dicobanya.
5. Iklan
Mudahnya akses anak-anak untuk melihat berbagai iklan membuat mereka terus berkeinginan jajan dan bersifat konsumtif.
Menurut Tedjasaputra yang ditemui belum lama ini, sebenarnya kebiasaan jajan pada anak, bisa diubah asal ada kemauan lebih dulu dari orangtua. Dalam arti orangtua mau mengubah kebiasan makan mereka, lebih kreatif dalam membuat makanan camilan tandingan agar mereka tak jajan di luar.
Orangtua juga harus tegas membatasi permintaan anak untuk jajan. Caranya, membatasi uang jajan mereka dan frekuensi jajan. "Misalnya anak-anak hanya boleh jajan hari Sabtu atau Minggu. Jika hari hari lain mereka menangis, Anda harus sedikit tega untuk membiarkan karena di sinilah letak pendidikannya,"ungkap Tedjasaputra.
Selain itu, ada dua upaya lagi untuk mengurangi kebiasaan jajan pada anak, yaitu upaya preventif dan upaya kuratif. Upaya preventif dilakukan sejak sedini mungkin bahkan ketika anak masih di dalam kandungan dengan mengenalkan dan membiasakan pola makan yang sehat dan regulasi tata cara makan.
Sedangkan upaya kuratif adalah dengan menciptakan suasana makan di rumah menjadi menyenangkan. Misalnya, dengan mengajak anak ke pasar membeli bahan-bahan makanan dan melibatkan mereka pada proses pembuatannya.
Tapi, Tedjasaputra menegaskan untuk menghindarkan anak dari proses 'pembunuhan' binatang seperti menyembelih, memukul kepala ikan dan lainnya. Ini bisa menyebabkan anak trauma untuk makan daging sehingga memilih menjadi vegetarian. Padahal, anak-anak tidak boleh melakukan diet ketat.
Hal senada juga diungkapkan oleh Dr. Fiastuti Witjaksono SpGk. Ia mengatakan anak-anak sangat membutuhkan protein dan lemak yang terdapat dari daging. Masalah kebiasaan jajan pun turut ditanggapi oleh ibu tiga anak ini.
"Jajanan yang di beli di jalan tidak bisa diukur tingkat kebersihan, kesehatan apalagi gizinya. Bahkan jajanan tersebut membuat anak mudah terserang penyakit. Ibu memang harus kreatif dalam menyiapkan camilan yang menarik dan bergizi tentunya."ujar Witjaksono. (mediaindonesia)
Sering kita meminta anak untuk bermain sendiri agar kita bisa menyelesaikan pekerjaan kita. Namun demikian, merasa didahulukan sama pentingnya bagi anak seperti merasa diistimewakan. Terutama di sela-sela kesibukan Anda mengerjakan tugas-tugas rumah tangga. Mau tahu caranya? Ini dia!
1. Matikan teve & cabut kabel telepon Ciptakan suasana makan (siang atau malam) tanpa gangguan dering telepon atau suara bising teve agar anak-anak memberi perhatiannya pada Anda.
2. Libatkan anak Dengan mengajak anak ikut sibuk menyiapkan meja makan atau memasak makanan kegemaran mereka, merupakan saat yang tak terlupakan oleh buah hati. 3. Beri kejutan Bagi ibu bekerja, tak ada salahnya bila sekali-sekali meminta izin atasan dan gunakan waktu tersebut untuk menjemput anak sepulang ia sekolah.
4. Buat tertawa Suasana rumah akan terasa hidup bila terdengar suara tawa dari anak-anak. Ikut bermain dan tertawa bersama akan mempererat ikatan antara Anda dan anak.
5. Libatkan diri dengan sekolah Kepedulian Anda terhadap perkembangan anak di sekolah akan membantu Anda mengatasi tekanan si anak dari sesama temanya atau kondisi kelasnya.
6. Libatkan pada kegiatan anak Kegemaran anak memandangi bulan pada saat purnama, mungkin merupakan hal sepele bagi Anda. Tetapi mengetahui Anda peduli, dan secara khusus menyisihkan waktu untuk menemani mereka memandang bulan purnama, merupakan kebahagiaan tersendiri bagi anak Anda.
7. "Kencan" dengan anak Ajak anak menonton di bioskop atau makan es krim di cafe sepulang menjemput mereka dari les. Setiap anak akan menghargai waktu khusus yang disisihkan oleh ibu atau ayahnya.
8. Jangan berhenti bertanya Selalu bertanya tentang bagaimana dan apa yang dilakukannya di sekolah hari ini agar mereka tahu bahwa Anda memang tertarik untuk mengetahui apa yang terjadi padanya selama di sekolah.
9. Menjadi pendengar yang baik Bila anak curhat , dengarkan mereka dengan penuh perhatian. Jangan sela pembicaraan mereka. Hal ini akan membuat anak merasa aman dan bahagia.
10. Manjakan diri Jangan merasa bersalah untuk sesekali ke salon melakukan spa, facial , atau apa saja. Semakin enak perasaan yang Anda rasakan, Anda pun akan semakin bahagia bila berkumpul bersama anak-anak tercinta.(Nova)
Berkomunikasi dengan anak menjelang remaja memang agak sulit. Jadi, ingat batasannya agar tak semakin menimbulkan masalah. Berbicara dengan anak remaja sebenarnya tak sulit bila Anda mampu menghindari cara berkomunikasi yang salah.
Sebab, terkadang komunikasi bisa membuat situasi yang sudah buruk jadi bertambah buruk. Jadi, apa pun yang Anda lakukan, cobalah untuk menghindari cara bicara yang tak bisa diterima, seperti:
1. Menyalahkan "Kamu malas, sih, Mama pusing jadinya!" Pernyataan negatif ini bisa menjadi masalah baru atas apa yang sesungguhnya ingin Anda selesaikan. Jika Anda ingin ia membereskan kamar tidur dengan cara menyalahkan, sama halnya memperhebat pertengkaran lebih dari sekadar kamar yang tak beres. Bahkan kini, karakternya menjadi rusak karena telah diperdebatkan. Sebaiknya, Anda coba hindari berkata, "Mama merasa kamu ...!" Atau, "Mama harap kamu ...!" Tapi cobalah katakan, "Mama belum puas jika tak menyelesaikan apa yang ingin Mama katakan." Atau, "Mama berharap kita setuju dan konsisten dengan keputusan kita. Menurutmu, bisakah kita melakukannya?"
2. Menyindir "Berhenti bersikap bodoh, dong!" Atau, "Tahu tidak, kamu itu bodoh?" Hindari sindiran seperti ini karena akan sama saja dengan melempar minyak ke arah api, bukan memadamkannya.
3. Menyangkal pentingnya perasaan orang lain Orang tua kerap berkata, "Mama tahu apa yang kamu rasakan, tapi ..." Padahal, Anda tak tahu apa yang dirasakan sang anak. Atau, mungkin Anda memang tahu tapi menyangkal kesempatan anak remaja Anda untuk menyatakan apa yang dirasakannya, dan justru memperlihatkan padanya, Anda tahu semuanya dan tak mau mendengar.
4. Sarkasme "Ini memang pintar untuk dilakukan, tapi apakah perlu kamu lakukan?" Kata-kata ini memberi kesan meremehkan, dan menghambat komunikasi lebih lanjut.
5. Membicarakan hal yang sudah lewat "Dan satu lagi, kamu juga memperlakukan adikmu sangat buruk pada piknik tahun lalu." Atau "Dan ingat, bagaimana dulu kamu merusak sweater Mama yang kamu pinjam?" Anda tak bisa langsung memperbaiki semua masalah di saat yang sama. Melemparkan terlalu banyak masalah dan membawanya ke pembicaraan baru hanya memastikan, Anda tak membahas permasalahan secara jelas.
6. Membuat menangis "Jangan mulai menangis, atau nanti Mama kasih kamu sesuatu yang betul-betul akan membuat kamu tambah menangis!" Seringkali orang tua berkata demikian. Tapi, menangis adalah respons sebenarnya atas beberapa situasi. Anak remaja yang menangis di depan orang tuanya memperlihatkan rasa sakit hati atau penderitaannya. Hal ini tentu tak mudah bagi kedua pihak, jadi hormatilah perasaan sedih anak remaja Anda.
7. Ceramah Penggunaan kata-kata, "Harus begini!" atau "Jangan begitu!" kepada anak remaja memberi kesan Anda sedang berceramah. Hal ini akan menghentikan komunikasi antara Anda dengannya. Sebaiknya, cobalah memberi kesan mengajar, bukan menceramahi.
8. Memberi perintah Kegagalan yang umum dilakukan orang tua adalah menyuruh anak remaja dengan nada memerintah misalnya, "Bersihkan kamarmu!" atau "Cepat berpakaian!" atau "Jangan terlambat bangun!" Cara ini justru membuat anak jadi tak mempedulikan Anda.
9. Mengganggu Seperti sarkasme, mengganggu atau menyindir anak remaja akan memberi kesan, Anda meremehkannya. Bila mengganggu menjadi suatu kebiasaan, justru akan menjadi masalah, dan tak akan menyelesaikannya.
10. Berlebihan "Bereskan kamarmu! Jika tidak, kamu tak akan punya rumah. Tidur saja di emperan!" atau "Kamu memang tak pernah bisa melakukan apa-apa ya?" Anda hanya membesar-besarkan masalah, yang mengakibatkan terhambatnya Anda dalam menyelesaikan masalah.(Nova)
Umumnya suami berselingkuh hanya karena alasan ini: bosan pada pasangan! Mau tahu apa saja hal-hal potensial yang menyebabkan pasangan berselingkuh?
1. SALING CUEK Konsep "menerima apa adanya" adalah mitos. Perkawinan masih terbilang sehat bila masing-masing pasangan rela dikritik. Jangan punya pikiran untuk membiarkan pasangan bebas melakukan apa saja kesenangannya. Misalnya, sang istri seharian ''kelinteran'' di ruang duduk dan nonton teve dengan jubah kamar mandi. Yang bijaksana, tanyakan mengapa dia bersikap seperti itu. Jangan-jangan dia sedang depresi, kurang enak badan, atau kelewat malas. Kalau Anda hanya diam saja, sang istri bisa merasa tidak dipedulikan lagi.
2. SALING ''MEMAKAN'' MINAT DAN HOBI Perkawinan tidak harus "menyatukan" semua minat, hobi, dan kawan. Kalau suami dan istri melakukan hampir segala hal bersama-sama, berarti ada yang salah. Artinya, kalau suami suka main golf, biar ia melakukan itu. Jangan "memakan" hobinya dan mengubahnya harus menjadi senang main tenis hanya karena Anda senang main tenis. Ingat, "memberangus" ruang pribadinya akan memantik kebencian pada pasangan! Artinya, terlalu masuk dalam kehidupan pasangan dan ingin tahu kegiatannya sampai ke detail-detailnya, akan membuat pasangan merasa terintimidasi.
3. MELEBURKAN DIRI DEMI SUAMI Ada cerita klasik tentang orang bernama Bernard, ahli bedah jantung, dan istrinya, Stacy. Stacy mengabdikan total hidupnya untuk Bernard. Ia mendorong suaminya masuk sekolah kedokteran. Dia menjadi ibu rumah tangga, masak, dan mengurus anak-anak. Ia juga tak pernah lupa melengkapi minuman suaminya dengan es batu berbentuk hati. Namun, toh, Bernard akhirnya kabur juga dengan perempuan lain, seorang fotografer nyentrik yang usianya dua tahun lebih tua darinya. Mereka bertemu saat rebutan taksi.
Mengapa Bernard justru takluk pada fotografer itu? Jawabannya, karena ia lebih menarik. "Pengabdian total terasa membosankan, kata ahli, "karena sama saja seperti menyewa pembantu dan tukang masak."
Berbeda sekali nilai antara memotivasi suami dan melayani suami. Kegagalan meningkatkan kemampuan diri, membuat Stacy kehilangan Bernard. "Jadi, penting bagi Anda untuk tetap memiliki kehidupan sendiri. Maka, sebaiknya, seorang istri memiliki posisi tawar. Tunjukkan kemampuan mandiri dan bisa mencari uang sendiri. Dengan begitu, pasangan Anda akan bersikap hati-hati dengan Anda."
4. PUSAT PERHATIAN HANYA PADA ANAK Seorang ibu seringkali tergoda untuk menganggap anak adalah segala-galanya. Jangan! Mengurus anak, mengantarnya latihan sepak bola, menari, dan antar-jemput pesta, menjadi ancaman bagi keintiman suami-istri. "Meski punya balita sekali pun, pasangan harus punya waktu untuk berduaan." Berjanjilah Anda hanya akan membicarkan soal anak setelah berbagi cerita urusan orang dewasa. Jangan bicarakan tentang anak-anak di tempat tidur.
5. TAK PUNYA TOPIK MENARIK Pasangan akan merasa bosan bila "kata sambutan" kita padanya berisi keluhan-keluhan tentang masalah rumah tangga, kegiatan "ecek-ecek", dan ditutup dengan pertanyaan basa basi, "Bagaimana di kantor tadi?" Kalau percakapan Anda dengan pasangan seperti ini, berarti Anda kehilangan cara berkomunikasi yang baik antara suami-istri. (Nova)
Walaupun ada beberapa alasan mengapa perselingkuhan terjadi, kebanyakan dikelompokkan menjadi empat kategori.
1. Rasa tak puas Bila salah seorang pasangan merasakan ketidakpuasan dengan hubungan yang sedang dia jalani, perselingkuhan merupakan cara yang tidak disadarinya untuk melarikan diri dari masalah yang sedang dihadapinya.
2. Pelarian Perselingkuhan merupakan cara untuk melepaskan diri dari hubungan yang sedang dijalani. Daripada menyelesaikan masalah secara langsung, perselingkuhan akan memacu putusnya hubungan tersebut.
3. Petualangan Perselingkuhan yang dilakukan secara diam-diam, melahirkan tantangan tersendiri dan meningkatkan gairah. Hubungan seks yang begitu menggairahkan dengan seseorang yang baru dan "segar" jadi amat susah dihindari.
4. Sifat poligami Perselingkuhan jenis ini dapat berlangsung lama dan mungkin dilakukan berulang kali. Ada orang yang merasa susah untuk terikat hanya pada satu orang saja. Mereka merasa dipenjara dengan hubungan yang monogami dan mereka tidak mau hanya terlibat pada satu orang saja. Memiliki orang ketiga dapat merupakan tempat untuk menumpahkan masalah sulit yang dihadapi.(Nova)
Konon, banyak alasan yang melandasi orang untuk tak setia. Mau tahu apa saja alasan-alasan itu? 1. SUDAH UMUM Sebuah penelitian menunjukkan, setengah dari pria menikah dan sepertiga dari wanita menikah pernah berselingkuh. Tapi tentu saja masih ada orang-orang yang setia. Tanpa keinginan untuk setia, kedekatan suatu hubungan sulit tercipta dan perkawinan hanya akan menjadi "penjara". Orang yang dikhianati pasangannya biasanya akan melakukan balas dendam dan membuat orang yang mengkhianatinya sengsara. 2. MENYELAMATKAN PERKAWINAN Ada yang beranggapan, perselingkuhan justru baik karena dapat memulihkan kejenuhan suatu perkawinan. Revolusi seksual, filosofi playboy, dan kehidupan kosmopolitan mendukung ketidaksetiaan sebagai cara untuk mempertahankan kejantanan seorang pria, kewanitaan seorang perempuan, dan keutuhan sebuah perkawinan. Para wanita didorong untuk lebih berani dalam mengekspresikan fantasi seksual mereka sebagai persamaan hak. Memang betul, perselingkuhan yang merupakan krisis ketidaksetiaan dapat menggoncang sebuah perkawinan yang kuat, namun krisis apa pun dapat memberikan fungsi pencetus yang sama. 3. TIDAK CINTA LAGI Perkawinan pada awalnya tidak memiliki masalah sebelum perselingkuhan terjadi dan pernyataan bahwa mereka tidak menyintai pasangannya hanya merupakan usaha untuk membenarkan perselingkuhan yang mereka lakukan. Jatuh cinta tidak dapat melindungi nafsu birahi seseorang. Tidak mencintai suami/istri bukan merupakan alasan untuk berkhianat. 4. KEBUTUHAN SEKS Seorang "pecandu" seks selalu merasa kurang puas akan hubungan seks yang dilakukan dengan pasangan pernikahannya. Alhasil, mereka mencari kepuasan dengan berselingkuh dan bagi mereka hubungan seks yang dilakukan karena perselingkuhan lebih menegangkan, menantang, menyenangkan, dan menggairahkan, tanpa memikirkan akibat dari perilaku buruknya itu. 5. KESALAHAN PASANGAN Sebetulnya hal ini merupakan salah satu trik untuk menutupi kesalahan dan kekurangan diri mereka sendiri. Mereka menyalahkan perkawinan itu sendiri (terlalu cepat menikah, terlalu terlambat menikah, menikah karena pelarian) atau sifat buruk dari pasangannya yang tidak dapat berubah. Di dalam perkawinan setiap orang dapat membuat pasangannya sengsara tetapi tidak dapat membuat pasangannya untuk tidak berselingkuh. 6. PURA-PURA TAK TAHU Banyak orang yang memilih menghindari kenyataan dan tidak peduli dengan perselingkuhan yang dilakukan pasangannya. Mendiamkan perselingkuhan justru membuat perselingkuhan tersebut semakin menjadi, menimbulkan orientasi yang salah yang tidak memikirkan kesehatan, serta tidak mempedulikan ketidaksetiaan pasangannya. Pada kenyataannya, membohongi diri sendiri dan sikap menyangkal yang terus-menerus, merupakan aspek yang paling tidak dapat dimaafkan. 7. HUBUNGAN BERMASALAH Bila Anda tidak bahagia dengan hubungan yang sedang dijalani, Anda cenderung untuk mencari kebahagiaan di tempat lain. 8. BOSAN Jika Anda bosan dengan kehidupan/hubungan yang sedang dijalani, perselingkuhan merupakan petualangan yang menyenangkan. 9. TAK PERCAYA DIRI Anda merasa perlu meyakinkan diri sendiri bahwa Anda masih menarik dan dicintai. (Nova)
Ada beberapa hal yang dapat membantu kita untuk berkomunikasi lebih baik, yaitu dengan cara yang penuh kasih, enak didengar, serta efektif. 1. Jangan suka berasumsi Berkomunikasi (yang baik dan benar) tidak mudah. Terutama dalam situasi yang sulit atau sensitif. Jadi, jangan menginterpretasikan atau mengasumsikan bahwa Anda tahu persis pikiran dan maksud lawan bicara. Lebih baik tanya, minta penjelasan atas apa yang diutarakan untuk memastikan Anda mengerti apa yang disampaikan. 2. Selalu merasa paling benar Tujuan berkomuniasi adalah untuk saling mengerti. Bila tujuan berkomuniasi untuk membuktikan bahwa Anda (yang paling) benar, Anda hanya akan merusak hubungan dengan lawan bicara. Hal ini umum terjadi dan merupakan perilaku yang sangat merusak. Jangan pernah berkomunikasi hanya karena ingin menjadi yang paling benar. Percayalah, hal ini tidak akan berhasil. 3. Mengungkit masalah lama Jangan mengungkit-ungkit persoalan yang sudah lewat, kecuali memang diperlukan untuk memberikan penjelasan. Tidak ada alasan bagi Anda untuk membicarakan permasalahan lama. Bila mempunyai masalah dengan sesuatu yang dilakukan pasangan, yang terbaik Anda lakukan adalah langsung mengatakannya saat itu juga padanya.
Atau paling tidak, pada saat yang tepat, atau beberapa saat sesudah kejadian berlangsung. Jangan menundanya terlalu lama. Bila diminta memberi contoh atas ucapan atau sikap yang Anda keluhkan dan Anda tidak dapat mengingatnya secara rinci, katakan kepadanya, Anda akan menyampaikannya bila hal serupa terjadi kembali. 4. Minta dipuji Sama halnya dengan sikap mau menang sendiri, bila tujuan berkomunikasi untuk memperoleh pujian, hal ini justru hanya memperlihatkan sikap egois Anda dan komunikasi yang baik dan lancar tidak akan berhasil. Anda ingin dipuji? Anda hanya perlu menyadari bahwa Anda telah melakukan sesuatu yang benar dan melakukannya dengan tulus untuk mengerti pikiran dan perasaan orang lain.
Termasuk perasaan pasangan. Dengan demikian Anda akan merasa puas. Tidak perlu mengharapkan pujian dari pasangan atau orang lain, karena sikap ini memperlihatkan ketidaktulusan Anda. 5. Menguniversalkan pendapat pribadi Hal ini merupakan kesalahan yang sering terjadi. Semua orang pasti pernah dan sering melakukannya. Bila membuat pernyataan yang memperlihatkan semua orang di "kelas", kelompok, atau keluarga Anda dan merasa mereka punya pikiran yang sama, berarti Anda menguniversalkan pendapat pribadi. Contohnya, Anda mengatakan, "Semua orang sudah tahu" atau "Orang-orang tahu, kok, apa yang saya katakan pasti benar."
Sebetulnya, saat Anda menguniversalkan pendapat pribadi sama dengan tengah berusaha untuk dibenarkan atau ingin dapat pujian. Cara yang lebih baik untuk memberikan respon adalah dengan mengatakan "Saya tidak tahu bagaimana pendapat yang lain mengenai hal ini, tetapi menurut saya biasanya orang memerlukan latihan berkomunikasi yang lebih baik." 6. Jangan bikin pasangan bingung Sangat penting untuk menyadari bahwa dengan siapa pun kita berhadapan, kita harus berpikiran positif dan menyadari bahwa lawan bicara berusaha jujur dalam berkomunikasi dengan Anda walaupun cara yang digunakan dan diperlihatkannya mungkin terbatas dan tidak efektif. Setiap orang dapat melakukan kesalahan. Bahkan kadang kesalahan yang serius. Dari waktu ke waktu, orang berada dalam situasi yang membuatnya marah dan menyebabkan dia melakukan suatu tindakan yang akhirnya disesalinya atau disadarinya tidak berguna dan tidak perlu. Bila melihat apa yang telah dilakukan, biasanya seseorang cenderung untuk berperilaku lebih baik.
Di dalam situasi yang tegang dan panas, sangat penting untuk tidak membuat orang bingung dengan tindakan dan sikap yang disengaja. Tiap orang bisa saja melakukan hal-hal yang tidak baik, tetapi tidak berarti orang tersebut bukan orang yang baik. Anda harus dapat membuat perbedaan bila tujuan berkomunikasi adalah untuk dapat memecahkan permasalahan dari konflik-konflik yang terjadi. 7. Membandingkan Perlakukan setiap orang sebagaimana Anda ingin diperlakukan. Sikap membeda-bedakan hanya akan merusak komunikasi antara Anda dan lawan bicara. Ingat, tindakan lebih keras daripada kata-kata. Bila mengatakan suatu hal dan bersikap sebaliknya atau bila berperilaku berdasar prinsip yang Anda terapkan kepada orang-orang di sekitar tetapi tidak Anda terapkan kepada diri sendiri, maka kontradiksi ini akan tampak dan membuat orang tersinggung dan marah. 8. Berperilaku negatif yang dramatis Hal ini hanya akan menambah api di dalam sekam, terutama bila komunikasi yang berlangsung merupakan komunikasi penting dan peka. Yang diperlukan adalah ketenangan, kepala dingin, dan membicarakan masalah tanpa rasa marah. 9. Menggunakan bahasa negatif Bahasa emosional yang negatif seperti, "Kamu tidak pernah mendengar apa yang saya katakan" atau "Kamu selalu mengatakan itu" atau "Kamu betul-betul membenci saya" atau "Kamu memang tidak mau mendengar" semua ini merupakan contoh bahasa emosional yang negatif. Bahasa ini tidak memberikan jalan keluar.
Jangan ucapkan kata-kata seperti "tidak pernah" dan "selalu" bila berbicara. Sebaliknya, katakan "Kadang-kadang saya merasa kamu tidak terlalu memperhatikan apa yang saya katakan. Apa pendapat kamu mengenai apa yang saya katakan tadi?". Dengan demikian Anda akan mengetahui apakah lawan bicara memperhatikan atau tidak apa yang Anda katakan. 10. Tidak menghargai sikap positif Kesalahan seperti ini juga sering dilakukan. Misalnya, Anda minta pasangan atau lawan bicara untuk mengubah nada suaranya bila berbicara dengan Anda. Anda memintanya agar berbicara lebih manis.
Bila akhirnya pasangan atau lawan bicara mengikuti kehendak Anda, Anda justru mengatakan, "Tumben kamu baik, jangan-jangan ada sesuatu yang kamu mau. Kamu pikir saya bodoh!" Banyak sekali contoh mengenai hal ini. Oleh karena itu, bila Anda meminta sesuatu dan akhirnya mendapatkannya, hargai dan jangan mencelanya. Sebaliknya, katakan terima kasih karena ia telah bersedia memenuhi permintaan Anda. Hargai usahanya. 11. Sama dan sejajar Contohnya, Anda berbicara dengan pasangan dan pembicaraan menjadi semakin sulit dan mulai bersitegang. Pada saat Anda mengatakan dia memperlihatkan sikap yang bermusuhan, responnya justru Anda yang memperlihatkan sikap demikian padanya. Lalu pada saat Anda bertanya kepadanya, "Perilaku saya yang bagaimana yang membuat kamu merasa terganggu?"
Lawan bicara hanya mengatakan bahwa pertanyaan yang Anda ajukan merupakan pertanyaan yang bodoh dan dia tidak mau membicarakannya. Jangan berkomunikasi untuk mendapatkan persamaan atau untuk membalas dendam. Hal ini tidak akan berhasil dan efeknya adalah merusak hubungan. Bila merasa salah, minta maa dan minta ia mengoreksinya. Misalnya, "Saya merasa tidak senang kalau kamu menaruh baju kotor ddi atas tempat tidur. Lain kali jangan lakukan lagi, ya." 12. Berbohong Apakah Anda senang bila dibohongi? Apakah Anda berharap orang yang dekat dengan Anda berbohong pada Anda? Jawabannya pasti "Tidak". Oleh karena itu, pastikan Anda jujur. Dengan cara ini, otomatis Anda memberi contoh dan memberi gambaran ingin agar orang di sekitar Anda jujurpada Anda dan bila tidak, Anda berhak untuk mengeluh. Tetapi bila Anda tidak jujur maka Anda tidak berhak untuk mengeluh. Kejujuran merupakan cara yang terbaik dan hanya satu-satunya cara untuk meyakinkan bahwa Anda mendapatkan apa yang Anda perlukan. 13. Membiarkan campur tangan dari luar Bila situasi menjadi lebih keruh dan harus diatasi, bicarakan langsung pada pasangan. Terutama bila ada hal yang perlu Anda jelaskan agar tidak terjadi kesalahpahaman. Tidak ada gunanya membicarakan masalah seseorang kepada orang lain sebelum Anda menyelesaikan permasalahannya dengan orang yang bersangkutan.(Nova)
Tipe ibu yang bagaimanakah Anda? Cari tahu apakah gaya yang Anda jalankan merupakan pendekatan yang terbaik bagi si kecil atau bukan. Jangan lupa, mungkin saja Anda punya lebih dari satu gaya, tergantung dari situasinya.
1. Super sibuk Ibu yang super sibuk tidak pernah diam. Ada saja kegiatannya sehingga waktu untuk keluarga hanya sedikit. Ibu yang super sibuk sangat andal dalam memberikan kesempatan kepada anaknya untuk mengenal dan mempelajari hal-hal baru, tetapi dia tidak menyadari bahwa keluarganya juga membutuhkan kebersamaan.
2. Over Protektif Ibu yang over protektif memusatkan perhatiannya pada keadaan fisik, mental, spiritual, dan kehidupan sosial anaknya. Ibu tipe ini merupakan juara bagi kesehatan dan keselamatan anaknya dan tahu mengenai kemungkinan bahaya yang dihadapi oleh anaknya di dunia nyata. Dari ibu tipe ini akan lahir seorang anak yang setelah dewasa, terbentuk menjadi seseorang yang akan selalu bermain aman bila dia harus mengambil risiko.
3. Sahabat Ibu yang seperti sahabat sangat sulit untuk mengatakan TIDAK kepada anak-anaknya. Ibu yang termasuk tipe ini lebih senang untuk tidak membatasi anak-anaknya dan menghindari hukuman. Ibu tipe ini akan membentuk anak-anak yang stres dan tak mampu berhadapan dengan situasi yang butuh pertanggungjawaban mereka. Hal ini disebabkan anak-anak tidak terbiasa dengan adanya batasan dan konsekuensi.
4. Diktator Ibu yang termasuk tipe ini selalu memberikan komunikasi satu arah; dia tidak pernah bertanya ataupun menegur. Ibu yang diktator dapat membuat anak-anaknya merasa tidak dapat memberikan pendapatnya bahkan di dalam rumahnya sendiri dan membentuk mereka menjadi orang yang kurang percaya diri.
5. Menuntut yang terbaik Ibu tipe ini mengatur keluarganya seperti bisnis, lengkap dengan daftar yang harus dikerjakan, kalender dan perintah yang terperinci bahkan untuk kegiatan sehari-hari. Namun, terkadang anak-anak merasa tidak sanggup untuk mengikuti kehendaknya atau mereka khawatir akan mengecewakan ibunya bila mereka tidak mengikuti perintahnya.
Ke lima gaya tadi tentu ada sisi positif dan negatifnya. Sebagai orangtua ada saatnya kita harus bersikap otoriter, peka dengan masa depan anak-anak, percaya diri dan melindungi anak-anak dari bahaya dan menyiapkan jadwal kegiatan mereka. Tetapi apa yang sangat perlu kita sadari adalah bagaimana dampak dari gaya yang kita jalankan terhadap anak-anak kita.(Nova)