Senin, 01 Juni 2009

Agar Tetap Nyaman Menikah dengan Bule

KEMAJUAN teknologi dan informasi memungkin Anda untuk berjumpa dan menjalin kasih dengan laki-laki dari berbagai negara. Tapi permasalahan yang turut mengekor dan seolah mendarah daging adalah masalah komunikasi dan budaya yang jauh berbeda. Belum lagi perjanjian pranikah, pembagian harta gono gini (jika bercerai) dan kewarganegaraan serta hak asuh anak.

Pernikahan campuran antara dua warga negara diatur dalam UU Perkawinan No.1 tahun 1974 dalam Pasal 57 yang berbunyi ''Yang dimaksud dengan perkawinan campuran dalam Undang-undang ini ialah perkawinan antara dua orang yang di Indonesia tunduk pada hukum yang berlainan, karena perbedaan kewarganegaraan dan salah satu pihak berkewarganegaraan Indonesia.''

Para laki-laki ini juga harus mengatur semua urusan termasuk surat-surat mengenai jati dirinya dan akan lebih baik lagi jika Anda dan pasangan membuat surat perjanjian pranikah yang mengatur tentang kepemilikan harta, bagaimana pembagian harta secara terpisah dan hak asuh anak.

Untuk kewarganegaraan anak, pemerintah sebelumnya mengatur anak di bawah usia 18tahun mengikuti kewarganegaraan sang ayah. Tapi, Undang-undang ini di revisi pada 11 Juli 2006, yang mengatakan bahwa anak hasil pernikahan dua bangsa juga memiliki dua kewarganegaraan sebelum ia berusia 18tahun. Bila terjadi perceraian, hak asuh seharusnya ada pada ibu, tapi ini masih bisa berubah dan disesuaikan dengan keingan dua belah pihak dan hukum dari dua negara.

Adapun Amalya Lerrigo dan Emmylia Hannig dari Srikandi-organisasi non profit dan non politisi yang menaungi perempuan-perempuan Indonesia yang menikah dengan laki-laki berkebangsaan asing-yang menjadi pembicara dalam Kampanye Sariwangi Mari Bicara, mengemukakan permasalahan yang terjadi adalah masalah komunikasi dan budaya.

Menurut mereka berdua ada beberapa cara yang harus dikembangkan untuk meminimalisir perbedaaan, yaitu:
  • Komunikasi efektif dan terbuka, baik antara suami dengan istri, suami dengan keluarga istri dan suami dan istri dengan keluarga suami dan istri. Dalam hal ini Anda memiliki ‘pr’ yang tak sedikit. Anda dituntut untuk bisa menjelaskan kepada keluarga besar mengenai budaya mereka yang 1800 berbeda dari kita. Hannig memberikan contoh berdasarkan pengalaman pribadinya berupa waktu kunjung. Budaya Indonesia memperbolehkan semua saudara berkunjung tanpa harus membuat janji lebih dulu, tapi dengan orang luar Anda harus membuat janji lebih dulu karena jika tidak akan dianggap mengganggu privasi.
  • Selalu berpikiran positif terhadap semua hal
  • Kreatif dan inovatif. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk bisa berbaur di keluarga dan teman-teman suami yang berbeda budaya. Anda bisa menggunakan cara seperti Lerrigo yang menggunakan hobi masaknya sebagai jembatan untuk berkomunikasi dengan suami, keluarga suami dan teman-temannya.
  • Menghargai, ini bukan saja untuk pasangan beda bangsa tetapi juga untuk seluruh pasangan. Karena kehidupan rumah tangga tak akan berjalan dengan baik jika kedua belah pihak ingin menjadi nomor satu dan tak ada yang mau mengalah. Jangan salah tafsir, mengalah di sini bukan menyerah dan kalah tapi mencari solusi dari permasalahan yang terjadi. (mediaindonesia)




Hal-Hal Sepele yang Berbahaya

SERINGKALI Anda menyepelekan hal-hal sederhana yang ada di sekitar rumah. Padahal hal-hal sederhana itu bisa menjadi musuh dalam selimut dan tentu saja berbahaya bagi Anda dan keluarga. Berikut beberapa hal sepele yang perlu diperhatikan agar tak membahayakan keselamatan keluarga.

1. Membersihkan telinga

Permasalahan yang terjadi saat membersihkan telinga adalah kapas dari cotton bud tertinggal di dalam telinga. Jika dibiarkan akan mengganggu proses pendengaran. Lebih baik gunakan alat pembersih telinga yang kapasnya bisa dililit sendiri. Sehingga Anda bisa mengukur panjang kapas. Lilitkan dan pastikan kencang, saat menggunakannya pun pegang bagian belakang kapas, sehingga mencegah kapas bergerak-gerak dan tertinggal.

2. Mengucek mata

Alasan orang mengucek mata karena merasa gatal atau refleks sehabis bangun tidur. Padahal saat mengucek mata, malah akan memperburuk kondisi mata Anda. Sebenarnya mata kita sudah memiliki 'alat pembersih' otomatis, yaitu air mata. Secara normal, air mata akan membilas mata dan membawa benda asing pergi. Tapi benda-benda yang ukurannya lebih besar dari pasir seperti softlens tidak akan bisa dibersihkan oleh air mata. Ini membutuhkan bantuan dokter.

Saat mengucek mata, partikel kecil yang ada di tangan bisa menggores permukaan kornea. Akibatnya, saat benda asing sudah hilang dibawa air mata, mata akan tetap terasa gatal karena luka akibat goresan menyebabkan terjadinya proses inflamasi (peradangan) lebih lanjut. Keadaan ini dinamakan corneal abrasion, suatu keadaan dengan lapisan-lapisan kornea tidak lagi intact (menyatu).

Jika terlalu keras mengucek mata dapat memecahkan pembuluh-pembuluh darah kecil di bola mata. Selain itu, tekanan yang terlalu keras saat mengucek mata juga dapat menyebabkan kerusakan pada bagian dalam bola mata, terutama retina. Jika ini terjadi bisa mengganggu proses penglihatan.

Lebih baik gunakan air mata sintetis atau biarkan saja saat mata Anda gatal, karena ada air mata yang membersihkannya. Jika sudah sangat gatal dan mengganggu segera pergi ke dokter mata.

3. Meniup balon

Ada satu kasus seorang anak mengalami kebutaan setelah meniup balon. Anak itu terlalu kuat meniup hingga menarik otot matanya sendiri. Memang lebih baik menghindari permainan-permainan yang membahayakan termasuk pistol-pistolan yang menggunakan peluru plastik berbentuk panjang maupun bulat.

4. Tidak memakai jaket

Jangan menyepelekan mengendarai motor tanpa menggunakan jaket sekalipun hanya jarak dekat. Angin yang menerpa tubuh, bisa membuat jantung Anda bermasalah.

5. Meletakkan anak sebagai 'perisai' saat naik motor

Jika Anda sedang melakukan perjalanan, cobalah lihat sekeliling dan perhatikan anak-anak yang dijadikan 'periasai'. Mereka di tempatkan di depan ayahnya yang mengendarai motor. Parahnya lagi, si anak tidak menggunakan jaket ataupun helm pelindung kepala. Jika orang dewasa saja berbahaya mengendarai motor tanpa jaket, bagaimana dengan anak-anak? Tubuh anak-anak masih sangat riskan terkena penyakit. Jadi jika tetap ingin mengendarai motor, letakkan mereka di tengah dengan menggunakan perlengkapan bermotor mereka.

6. Seluncuran di kolam renang

Gunakan ban atau pelampung saat berseluncur di seluncuran kolam renang. Karena tak ada yang mengetahui apa yang terjadi di atas sana. Bisa saja mur, atau besi penyambung seluncuran ada yang terlepas dan berpotensi melukai tubuh saat berseluncur. (mediaindonesia)



Mengubah Kebiasaan Jajan pada Anak

Hal Hal Sepele yang Berbahaya

BUKAN hal yang baru bila Anda melihat anak-anak kecil jajan di sekolah maupun di rumah mereka. Tapi selaku ibu, sadarkah Anda bahwa jajanan yang mereka makan belum tentu bersih, sehat dan bergizi?

Masalah yang timbul adalah bagaimana mengurangi dan menghilangkan kebiasaan jajan pada anak. Dra. Mayke S. Tedjasaputra, psikolog anak dan staf pengajar UI, mengatakan bahwa kebiasaan jajan bisa diminimalisir bahkan dihilangkan.

Kebiasaan jajan adalah suatu sikap yang terbentuk karena dilakukan secara terus menerus yang merupakan pengalaman menyenangkan, dan kadangkala digunakan untuk melawan orangtua, agar sama dengan teman, atau untuk 'membeli' teman.

Menurut Tedjasaputra yang juga seorang terapis bermain ini, kebiasaan jajan terjadi karena beberapa hal yaitu:

1. Pola hubungan orangtua dan anak

Ketidakdekatan menjadi satu-satunya alasan kenapa anak lebih suka jajan. Ketidakdekatan ini bisa disebabkan oleh beberapa sumber, seperti orangtua yang sibuk bekerja, jadi memilih memberikan uang jajan daripada memasak untuk mereka.

2. Karakteristik anak

Anak-anak, sama halnya seperti orang dewasa, memiliki berbagai karakteristik. Ada yang mudah diberitahu adapula yang cenderung melawan. Di sinilah diperlukan kesabaran dan kreativitas dari Anda selaku ibunya.

3. Pola makan keluarga

Ada keluarga yang lebih suka membeli makanan dari luar dan ini menurun ke anak yang melihat pola makan orangtuanya.

4. Tetangga dan sekolah

Lingkungan tetangga dan sekolah merupakan sarana beriklan paling manjur untuk anak-anak. Buah hati Anda mudah tergiur saat temannya membawa jajanan yang belum pernah dicobanya.

5. Iklan

Mudahnya akses anak-anak untuk melihat berbagai iklan membuat mereka terus berkeinginan jajan dan bersifat konsumtif.

Menurut Tedjasaputra yang ditemui belum lama ini, sebenarnya kebiasaan jajan pada anak, bisa diubah asal ada kemauan lebih dulu dari orangtua. Dalam arti orangtua mau mengubah kebiasan makan mereka, lebih kreatif dalam membuat makanan camilan tandingan agar mereka tak jajan di luar.

Orangtua juga harus tegas membatasi permintaan anak untuk jajan. Caranya, membatasi uang jajan mereka dan frekuensi jajan. "Misalnya anak-anak hanya boleh jajan hari Sabtu atau Minggu. Jika hari hari lain mereka menangis, Anda harus sedikit tega untuk membiarkan karena di sinilah letak pendidikannya,"ungkap Tedjasaputra.

Selain itu, ada dua upaya lagi untuk mengurangi kebiasaan jajan pada anak, yaitu upaya preventif dan upaya kuratif. Upaya preventif dilakukan sejak sedini mungkin bahkan ketika anak masih di dalam kandungan dengan mengenalkan dan membiasakan pola makan yang sehat dan regulasi tata cara makan.

Sedangkan upaya kuratif adalah dengan menciptakan suasana makan di rumah menjadi menyenangkan. Misalnya, dengan mengajak anak ke pasar membeli bahan-bahan makanan dan melibatkan mereka pada proses pembuatannya.

Tapi, Tedjasaputra menegaskan untuk menghindarkan anak dari proses 'pembunuhan' binatang seperti menyembelih, memukul kepala ikan dan lainnya. Ini bisa menyebabkan anak trauma untuk makan daging sehingga memilih menjadi vegetarian. Padahal, anak-anak tidak boleh melakukan diet ketat.

Hal senada juga diungkapkan oleh Dr. Fiastuti Witjaksono SpGk. Ia mengatakan anak-anak sangat membutuhkan protein dan lemak yang terdapat dari daging. Masalah kebiasaan jajan pun turut ditanggapi oleh ibu tiga anak ini.

"Jajanan yang di beli di jalan tidak bisa diukur tingkat kebersihan, kesehatan apalagi gizinya. Bahkan jajanan tersebut membuat anak mudah terserang penyakit. Ibu memang harus kreatif dalam menyiapkan camilan yang menarik dan bergizi tentunya."ujar Witjaksono. (mediaindonesia)



10 Cara Membuat Anak Merasa Istimewa


Sering kita meminta anak untuk bermain sendiri agar kita bisa menyelesaikan pekerjaan kita. Namun demikian, merasa didahulukan sama pentingnya bagi anak seperti merasa diistimewakan. Terutama di sela-sela kesibukan Anda mengerjakan tugas-tugas rumah tangga. Mau tahu caranya? Ini dia!

1. Matikan teve & cabut kabel telepon
Ciptakan suasana makan (siang atau malam) tanpa gangguan dering telepon atau suara bising teve agar anak-anak memberi perhatiannya pada Anda.

2. Libatkan anak
Dengan mengajak anak ikut sibuk menyiapkan meja makan atau memasak makanan kegemaran mereka, merupakan saat yang tak terlupakan oleh buah hati.
3. Beri kejutan
Bagi ibu bekerja, tak ada salahnya bila sekali-sekali meminta izin atasan dan gunakan waktu tersebut untuk menjemput anak sepulang ia sekolah.

4. Buat tertawa
Suasana rumah akan terasa hidup bila terdengar suara tawa dari anak-anak. Ikut bermain dan tertawa bersama akan mempererat ikatan antara Anda dan anak.

5. Libatkan diri dengan sekolah
Kepedulian Anda terhadap perkembangan anak di sekolah akan membantu Anda mengatasi tekanan si anak dari sesama temanya atau kondisi kelasnya.

6. Libatkan pada kegiatan anak
Kegemaran anak memandangi bulan pada saat purnama, mungkin merupakan hal sepele bagi Anda. Tetapi mengetahui Anda peduli, dan secara khusus menyisihkan waktu untuk menemani mereka memandang bulan purnama, merupakan kebahagiaan tersendiri bagi anak Anda.

7. "Kencan" dengan anak
Ajak anak menonton di bioskop atau makan es krim di cafe sepulang menjemput mereka dari les. Setiap anak akan menghargai waktu khusus yang disisihkan oleh ibu atau ayahnya.

8. Jangan berhenti bertanya
Selalu bertanya tentang bagaimana dan apa yang dilakukannya di sekolah hari ini agar mereka tahu bahwa Anda memang tertarik untuk mengetahui apa yang terjadi padanya selama di sekolah.

9. Menjadi pendengar yang baik
Bila anak curhat , dengarkan mereka dengan penuh perhatian. Jangan sela pembicaraan mereka. Hal ini akan membuat anak merasa aman dan bahagia.

10. Manjakan diri
Jangan merasa bersalah untuk sesekali ke salon melakukan spa, facial , atau apa saja. Semakin enak perasaan yang Anda rasakan, Anda pun akan semakin bahagia bila berkumpul bersama anak-anak tercinta.(Nova)




10 Tabu dalam Berkomunikasi dengan Anak


Berkomunikasi dengan anak menjelang remaja memang agak sulit. Jadi, ingat batasannya agar tak semakin menimbulkan masalah.
Berbicara dengan anak remaja sebenarnya tak sulit bila Anda mampu menghindari cara berkomunikasi yang salah.

Sebab, terkadang komunikasi bisa membuat situasi yang sudah buruk jadi bertambah buruk. Jadi, apa pun yang Anda lakukan, cobalah untuk menghindari cara bicara yang tak bisa diterima, seperti:

1. Menyalahkan
"Kamu malas, sih, Mama pusing jadinya!" Pernyataan negatif ini bisa menjadi masalah baru atas apa yang sesungguhnya ingin Anda selesaikan. Jika Anda ingin ia membereskan kamar tidur dengan cara menyalahkan, sama halnya memperhebat pertengkaran lebih dari sekadar kamar yang tak beres. Bahkan kini, karakternya menjadi rusak karena telah diperdebatkan.
Sebaiknya, Anda coba hindari berkata, "Mama merasa kamu ...!" Atau, "Mama harap kamu ...!" Tapi cobalah katakan, "Mama belum puas jika tak menyelesaikan apa yang ingin Mama katakan." Atau, "Mama berharap kita setuju dan konsisten dengan keputusan kita. Menurutmu, bisakah kita melakukannya?"

2. Menyindir
"Berhenti bersikap bodoh, dong!" Atau, "Tahu tidak, kamu itu bodoh?" Hindari sindiran seperti ini karena akan sama saja dengan melempar minyak ke arah api, bukan memadamkannya.

3. Menyangkal pentingnya perasaan orang lain
Orang tua kerap berkata, "Mama tahu apa yang kamu rasakan, tapi ..." Padahal, Anda tak tahu apa yang dirasakan sang anak. Atau, mungkin Anda memang tahu tapi menyangkal kesempatan anak remaja Anda untuk menyatakan apa yang dirasakannya, dan justru memperlihatkan padanya, Anda tahu semuanya dan tak mau mendengar.

4. Sarkasme
"Ini memang pintar untuk dilakukan, tapi apakah perlu kamu lakukan?" Kata-kata ini memberi kesan meremehkan, dan menghambat komunikasi lebih lanjut.

5. Membicarakan hal yang sudah lewat
"Dan satu lagi, kamu juga memperlakukan adikmu sangat buruk pada piknik tahun lalu." Atau "Dan ingat, bagaimana dulu kamu merusak sweater Mama yang kamu pinjam?" Anda tak bisa langsung memperbaiki semua masalah di saat yang sama. Melemparkan terlalu banyak masalah dan membawanya ke pembicaraan baru hanya memastikan, Anda tak membahas permasalahan secara jelas.

6. Membuat menangis
"Jangan mulai menangis, atau nanti Mama kasih kamu sesuatu yang betul-betul akan membuat kamu tambah menangis!" Seringkali orang tua berkata demikian. Tapi, menangis adalah respons sebenarnya atas beberapa situasi. Anak remaja yang menangis di depan orang tuanya memperlihatkan rasa sakit hati atau penderitaannya. Hal ini tentu tak mudah bagi kedua pihak, jadi hormatilah perasaan sedih anak remaja Anda.

7. Ceramah
Penggunaan kata-kata, "Harus begini!" atau "Jangan begitu!" kepada anak remaja memberi kesan Anda sedang berceramah. Hal ini akan menghentikan komunikasi antara Anda dengannya. Sebaiknya, cobalah memberi kesan mengajar, bukan menceramahi.

8. Memberi perintah
Kegagalan yang umum dilakukan orang tua adalah menyuruh anak remaja dengan nada memerintah misalnya, "Bersihkan kamarmu!" atau "Cepat berpakaian!" atau "Jangan terlambat bangun!" Cara ini justru membuat anak jadi tak mempedulikan Anda.

9. Mengganggu
Seperti sarkasme, mengganggu atau menyindir anak remaja akan memberi kesan, Anda meremehkannya. Bila mengganggu menjadi suatu kebiasaan, justru akan menjadi masalah, dan tak akan menyelesaikannya.

10. Berlebihan
"Bereskan kamarmu! Jika tidak, kamu tak akan punya rumah. Tidur saja di emperan!" atau "Kamu memang tak pernah bisa melakukan apa-apa ya?" Anda hanya membesar-besarkan masalah, yang mengakibatkan terhambatnya Anda dalam menyelesaikan masalah.(Nova)




Hal-hal Potensial yang Menyebabkan Pasangan Berselingkuh

Umumnya suami berselingkuh hanya karena alasan ini: bosan pada pasangan! Mau tahu apa saja hal-hal potensial yang menyebabkan pasangan berselingkuh?

1. SALING CUEK
Konsep "menerima apa adanya" adalah mitos. Perkawinan masih terbilang sehat bila masing-masing pasangan rela dikritik. Jangan punya pikiran untuk membiarkan pasangan bebas melakukan apa saja kesenangannya. Misalnya, sang istri seharian ''kelinteran'' di ruang duduk dan nonton teve dengan jubah kamar mandi. Yang bijaksana, tanyakan mengapa dia bersikap seperti itu. Jangan-jangan dia sedang depresi, kurang enak badan, atau kelewat malas. Kalau Anda hanya diam saja, sang istri bisa merasa tidak dipedulikan lagi.

2. SALING ''MEMAKAN'' MINAT DAN HOBI
Perkawinan tidak harus "menyatukan" semua minat, hobi, dan kawan. Kalau suami dan istri melakukan hampir segala hal bersama-sama, berarti ada yang salah. Artinya, kalau suami suka main golf, biar ia melakukan itu. Jangan "memakan" hobinya dan mengubahnya harus menjadi senang main tenis hanya karena Anda senang main tenis. Ingat, "memberangus" ruang pribadinya akan memantik kebencian pada pasangan! Artinya, terlalu masuk dalam kehidupan pasangan dan ingin tahu kegiatannya sampai ke detail-detailnya, akan membuat pasangan merasa terintimidasi.

3. MELEBURKAN DIRI DEMI SUAMI
Ada cerita klasik tentang orang bernama Bernard, ahli bedah jantung, dan istrinya, Stacy. Stacy mengabdikan total hidupnya untuk Bernard. Ia mendorong suaminya masuk sekolah kedokteran. Dia menjadi ibu rumah tangga, masak, dan mengurus anak-anak. Ia juga tak pernah lupa melengkapi minuman suaminya dengan es batu berbentuk hati. Namun, toh, Bernard akhirnya kabur juga dengan perempuan lain, seorang fotografer nyentrik yang usianya dua tahun lebih tua darinya. Mereka bertemu saat rebutan taksi.

Mengapa Bernard justru takluk pada fotografer itu? Jawabannya, karena ia lebih menarik. "Pengabdian total terasa membosankan, kata ahli, "karena sama saja seperti menyewa pembantu dan tukang masak."

Berbeda sekali nilai antara memotivasi suami dan melayani suami. Kegagalan meningkatkan kemampuan diri, membuat Stacy kehilangan Bernard. "Jadi, penting bagi Anda untuk tetap memiliki kehidupan sendiri. Maka, sebaiknya, seorang istri memiliki posisi tawar. Tunjukkan kemampuan mandiri dan bisa mencari uang sendiri. Dengan begitu, pasangan Anda akan bersikap hati-hati dengan Anda."

4. PUSAT PERHATIAN HANYA PADA ANAK
Seorang ibu seringkali tergoda untuk menganggap anak adalah segala-galanya. Jangan! Mengurus anak, mengantarnya latihan sepak bola, menari, dan antar-jemput pesta, menjadi ancaman bagi keintiman suami-istri. "Meski punya balita sekali pun, pasangan harus punya waktu untuk berduaan." Berjanjilah Anda hanya akan membicarkan soal anak setelah berbagi cerita urusan orang dewasa. Jangan bicarakan tentang anak-anak di tempat tidur.

5. TAK PUNYA TOPIK MENARIK
Pasangan akan merasa bosan bila "kata sambutan" kita padanya berisi keluhan-keluhan tentang masalah rumah tangga, kegiatan "ecek-ecek", dan ditutup dengan pertanyaan basa basi, "Bagaimana di kantor tadi?" Kalau percakapan Anda dengan pasangan seperti ini, berarti Anda kehilangan cara berkomunikasi yang baik antara suami-istri. (Nova)



4 Kategori Selingkuh

Walaupun ada beberapa alasan mengapa perselingkuhan terjadi, kebanyakan dikelompokkan menjadi empat kategori.

1. Rasa tak puas
Bila salah seorang pasangan merasakan ketidakpuasan dengan hubungan yang sedang dia jalani, perselingkuhan merupakan cara yang tidak disadarinya untuk melarikan diri dari masalah yang sedang dihadapinya.

2. Pelarian
Perselingkuhan merupakan cara untuk melepaskan diri dari hubungan yang sedang dijalani. Daripada menyelesaikan masalah secara langsung, perselingkuhan akan memacu putusnya hubungan tersebut.

3. Petualangan
Perselingkuhan yang dilakukan secara diam-diam, melahirkan tantangan tersendiri dan meningkatkan gairah. Hubungan seks yang begitu menggairahkan dengan seseorang yang baru dan "segar" jadi amat susah dihindari.

4. Sifat poligami
Perselingkuhan jenis ini dapat berlangsung lama dan mungkin dilakukan berulang kali. Ada orang yang merasa susah untuk terikat hanya pada satu orang saja. Mereka merasa dipenjara dengan hubungan yang monogami dan mereka tidak mau hanya terlibat pada satu orang saja. Memiliki orang ketiga dapat merupakan tempat untuk menumpahkan masalah sulit yang dihadapi.(Nova)